Jumat, 08 Maret 2013

Inni Maftukhah, Indri S.R, dan Agreta.M

MAKALAH
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL)
Guna memenuhi tugas mata kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika
Dosen Pengampu: Muhammad Prayito, M.Pd.


Disusun Oleh:
1.         Indri Setia Rini
(11310073)
2.         Inni Maftukhah
(11310078)
3.         Agreta Laxmi M
(11310091)
Kelas Matematika 3B
                                                                                       
PROGRAM PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberi  kenikmatan dan kekuatan hingga terselesaikannya penyusunan makalah ini.
Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah.
Bergema seiring senada mengalunkan kata hati yang senantiasa mengungkapkan getaran jiwa, penyusun dengan penuh kesadaran diri bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, hal ini dikarenanakan keterbatasan kemampuan dan kedangkalan ilmu yang penyusun miliki. Dalam kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak yang turut membantu terselesaikannya makalah ini.
1.      Ayah dan Bunda, yang senantiasa memberikan dukungan moril dan materil kepada penyusun guna terselesaikannya penyusunan makalah ini.
2.      Bapak Muhammad Prayito, S.Pd., M.pd., selaku dosen IPM yang dengan penuh kesabaran membimbing penyusun dalam menyusun makalah ini.
3.      Teman – teman seperjuangan kelas 3B Matematika angkatan 2011/2012 yang senantiasa saling menyemangati dan memotivasi hingga terselesaikannya makalah ini.
4.      Pembaca, semoga makalah ini sedikit membantu dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari.
Tiada yang sempurna di dunia ini karena kesempurnaan itu hanyalah milik Yang Maha Esa, begitu juga dengan penyusun dalam menyusun makalah ini. Kritki dan saran selalu diharapkan guna perbaikan dalam penyusunan makalah ini di masa mendatang.
Semarang, September 2012
                                                                                                   penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................................ i
Kata pengantar ........................................................................................................ ii
Daftar Isi ..............................................................................................................  iii
BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang .......................................................................................  1
B.  Rumusan Masalah ..................................................................................  2
C.  Tujuan Penulisan ....................................................................................  2
BAB II PEMBAHASAN                        
A.  Definisi Pembelajaran Kontekstual ........................................................  3
B.  Strategi Pembelajaran Kontekstual ........................................................  4
C.  Komponen Pembelajaran Kontekstual ...................................................  5
D.  Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional....     7
E.   kelebihan dan kelemahan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL  8
F.   Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual (CTL) ke dalam Materi Matematika             10
G.  Langkah-langkah pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)             11
H.  peran guru dan siswa dalam CTL .......................................................... 15
BAB III PENUTUP
A.  Simpulan ................................................................................................ 17
B.  Saran ...................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 19
Lampiran
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dunia pendidikan kita saat ini ditandai oleh proses belejar mengajar yang menekan pada pencapaian academik standar dan performence standar. Faktanya, banyak peserta didik mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi ajar yang diterimanya, namun pada kenyataannya mereka tidak memahaminya. Sebagian besar dari peserta didik tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan/ dimanfaatkan. Peserta didik memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan yaitu dengan menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Padahal mereka butuh untuk dapat memahami konsep-konsep yang berhubungan dengan tempat kerja dan masyarakat pada umumnya di mana mereka akan hidup dan bekerja. Hal ini terjadi karena pembelajaran selama ini hanyalah suatu proses pengondisian- pengondisian yang tidak menyentuh realitasi, selain itu sejauh ini pembelajaran juga masih di dominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai fakta untuk dihafal. Pembelajaran tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoristis saja, akan tetapi bagaimana agar pengalaman belajar yang dimiliki siswa itu senantiasa terkait dengan permaslahan- permasalahan actual yang terjadi dilingkungannya.
Berangkat dari latar belakang di atas, model pembelajaran kontekstual (CTL) perlu dilakukan dalam proses belajar mengajar karena setiap materi atau topik pembelajaran dalam proses pembelajaran dilakukan dengan kehidupan nyata. Selain materi yang dipelajari secara langsung terkait dengan kondisi faktual, juga bisa disiasati dengan pemberian ilustrasi  dan lain sebagainya, yang memang baik secara langsung maupun tidak diupayakan terkait atau ada hubungan dengan pengalaman hidup nyata. Dengan demikian, pembelajaran selain akan labih menarik, juga akan dirasakan sangat dibutuhkan oleh setiap siswa karena apa yang dipelajari dirasakan langsung manfaatnya. Selain itu siswa juga bisa mengkaitkan ilmu tersebut dan mengaplikasikannya ke kehidupan nyata.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa definisi pembelajaran kontekstual (CTL)?
2.    Bagaimana strategi pembelajaran kontekstual (CTL)?
3.    Apa komponen pembelajaran kontekstual (CTL)?
4.    Apa perbedaan pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional?
5.    Apa kelebihan dan kelemahan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)?
6.    Materi pelajaran yang bagaimana yang dalam proses pembelajaran bisa menggunakan model pembelajaran kontekstual?
7.    Bagaimana langkah-langkah pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)?
8.    Apa peran guru dan siswa dalam CTL?
C.    Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui definisi pembelajaran kontekstual (CTL).
2.    Mengetahui bagaimana strategi pembelajaran kontekstual.
3.    Mengetahui komponen-komponen pembelajaran kontekstual.
4.    Mengetahui letak perbedaan dari pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional.
5.    Mengetahui kelebihan dan kelemahan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).
6.    Mengetahui materi pelajaran yang pas untuk bisa diggunakan dalam model pembelajaran kontekstual.
7.    Mengetahui langkah-langkah pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).
8.    Mengetahui peran guru dan siswa dalam CTL.
BAB II
PEMBAHASAN
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

A.    Definisi Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. (Agus Supriijono,2009:79)
Pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan KBK. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka (Depdiknas, 2002).
Sejauh ini, ditinjau dari pembelajaran yang diterapkan oleh guru-guru matematika pada umumnya, tampaknya pembelajaran yang dilaksanakan masih didominasi oleh guru. Dalam mengajar, guru cenderung untuk menjelaskan materi terlebih dahulu, diikuti dengan memberikan contoh-contoh soal dan pembahasannya, kemudian dilanjutkan dengan latihan soal yang tetap dibimbing oleh guru. Dalam menyampaikan materi pelajaran, guru cenderung mendominasi dengan metode ceramah. Menurut pengamatan peneliti, model pembelajaran semacam ini cenderung membuat siswa pasif, enggan untuk mengemukakan ide-idenya, kreativitas berpikirnya tidak berkembang, mereka cenderung menerima apa yang diberikan oleh guru dan melaksanakan apa yang diminta oleh gurunya. Dampak pelaksanaan pembelajaran semacam ini adalah siswa merasa cepat bosan dalam belajar, siswa sering merasa cemas setiap kali akan mendapat pelajaran matematika, karena sudah tertanam dalam benaknya bahwa matematika itu sulit.
Dilihat dari pendekatan mengajar matematika yang digunakan, tampak cara penyampaian materi oleh guru terlalu abstrak. Dalam menyampaikan materi di kelas, jarang sekali guru mengaitkan materi yang dibahasnya dengan masalah-masalah atau isu-isu yang terjadi di sekitar siswa. Dengan demikian, anggapan mereka bahwa matematika tidak ada manfaatnya seolah-olah benar adanya.
Dengan melihat berbagai kenyataan yang ada, maka hal ini perlu mencoba untuk mengubah paradigma pembelajaran yang selama ini didominasi oleh guru ke pembelajaran yang berpusatkan pada siswa. Perubahan yang dilakukan yaitu dengan melaksanakan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual (contextual approach).
Ketika seorang guru memberikan sebuah materi yang diorientasikan pada pengalaman dan kemampuan aplikatif yang lebih bersifat praktis, maka hal ini akan membuat siswa lebih capat memahami materi dengan baik karena siswa akan berfikir secara nyata dengan kemampuan logika yaitu dengan membayangkan pengaplikasian materi tersebut ke kehidupan sehari-hari. Demikian juga halnya bagi guru, kemampuan melaksanakan proses pembelajaran melalui CTL yang baik didasarkan pada penguasaan konsep apa, mengapa, dan bagaimana CTL itu. Melalui pemahaman tentang CTL itu, akan membekali kemampuan para guru menerapkan secara lebih luas model pembelajaran tersebut kedalam proses pembelajarannya agar llebih luas, tegas, dan penuh keyakinan.

B.     Strategi Pembelajaran Kontekstual
Strategi pembelajaran kontekstual merupakan kegiatan yang dipilih yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi berupa urut-urutan kegiatan yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan tertentu. Strategi pembelajaran mencakup juga pengaturan materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik (Agus Suprijono, 2009: 83).
Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD) penerapan strategi pembelajaran kontekstual digambarkan sebagai berikut:
1.    Relating, belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk membantu peserta didik agar yang dipelajari bermakna.
2.    Experiencing, belajar adalah kegiatan “mengalami”, peserta didik berproses secara aktif dengan hal yang dipelajari dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang terkaji, berusaha menemukan dan menciptakan hal baru dari apa yang dipelajari.
3.    Applying, belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki dalam konteks dan pemanfaatannya.
4.    Cooperating, belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui belajar berkelompok, komunikasi interpersonal atau hubungan intersubjektif.
5.    Transfering, belajar menekankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.

C.    Komponen Pembelajaran Kontekstual
1.    Belajar berdasarkan kontruktivisme adalah “mengontruksi” pengetahuan. Pengetahuan dibangun melalui proses asimilasi dan akomodasi (pengintegrasian pengetahuan baru terhadap struktur kognitif yang sudah ada dan penyesuaian struktur kognitif dengan informasi baru) maupun dialektika berpikir thesa-antithesa-sinthesa. (Agus Suprijono,2009:85)
Dalam komponen ini siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan suatu permasalahan, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Jadi dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibartan aktif dalam proses belajar mengajar.
2.    Inkuiri
          Kata kunci dari pembelajaran kontekstual adalah “penemuan”. Beajar penemuan menunjuk pada proses dan hasil belajar. Belajar penemuan melibatkan peserta didik dalam keseluruhan proses metode keilmuan sebagai langkah-langkah sistematik menemukan pengetahuan baru atau memferivikasi pengetahuan lama. Dalam investigasi peserta didik tidak hanya belajar memperoleh informasi, namun juga pemrosesan informasi. Pemrosesan ini tidak hanya melibatkan kepiawaian peserta didik berpikir fakta ke konsep, konsep ke fakata, namu juga penerapan teori. Tidak kalah penting sebagai hasil pemrosesan informasi adalah kemampuan peserta didik memecahkan masalah dan mengontrnuksikannya ke dalam bentuk lapor atau bentyk lainnya sebagai bukti tindak produktif peserta didik dari belajar penemuan. Prosedur inkuiri terdiri dari tahapan yaitu melontarkan permasalahn, mengumpulkan data eksperimentasi, merumuskan penjelasan, dan menganalisisi proses inkuiri. (Agus Suprijono,2009:86).
3.    Bertanya
          Pembelajaran kontekstual dibangun melalui dialog interaktif melalaui tanya jawab oleh keseluruhan unsur yang terlibat dalam komunitas belajar. Kegiatan bertanya sangat penting untuk menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Bertanya adalah fondasi dari interaksi belajar mengajar. (Agus Suprijono,2009:87)
4.    Mansyarakat belajar
          Maksud dari masyarakat belajar adalah membiaskan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Konsep learning community menyarankan agar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain.
5.    Pemodelan
          Pemodelan memusatkan pada arti penting pengetahuan prosedural. Melalui pemodelan peserta didik dapat meniru terhadap hal yang dimodelkan. Model bisa berupa cara mengoprasikan sesuatu, contoh karya tulis, melafalkan bahasa dan sebagainya. (Agus Suprijono,2009:89)
6.    Refleksi
          Refleksi adalah bagian penting dalam pembelajaran kontekstual. Refleksi merupakan upaya untuk melihat kembali, mengorganisir kembali, menganalisis kembali, mengklarifikasi kembali, dan mengevaluasi hal-hal yang telah dipelajari.
7.    Penilaian Autentik
Penilaian Autentik adalah upaya mengumpulkan berbagai data yang bisa memberikan ganbaran perkembangan belajar peserta didik. Data dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan peserta didik pada saat melakukan pembelajaran.

D.      Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional
       Membandingkan pola pembelajaran tradisional dan kontekstual menurut Blanchard:
PENGAJARAN TRADISIONAL
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Menyandarkan pada hafalan
Menyandarkan pada memori spasial
Berfokus pada satu bidang
Mengintegrasikan berbagai bidang (disiplin) atau multidisplin
Nilai informasi bergantung pada guru
Nilai informasi berdasarkan kebutuhan peserta didik
Memberikan informasi kepada peserta didik sampai pada saatnya dibutuhkan
Menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik
Penilaian hanya untuk akademik formal berupa ujian
Penilaian autentik melalui penerapan praktis pemecahan problem nyata

E.       Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
       Adapun beberapa kelebihan dari pembelajaran Kontekstual adalah:
1.    Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
2.    Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
3.    Kontekstual adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
4.    Kelas dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan.
5.    Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru.
6.    Penerapan pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran yang  bermakna.
     Sedangkan kelemahan dari pembelajaran Kontekstual adalah sebagai berikut:
1.    Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran Kontekstual berlangsung.
2.    Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif.
3.    Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL,  guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
4.    Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.




F.       Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual (CTL) ke dalam Materi Matematika
       Berdasarkan definisi dari model pembelajaran kontekstual yang dikemukakan oleh Agus Suprijono dalam bukunya Cooperative Learning menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran autentik (real world learning, bukan artifisial). Pembelajaran autentik dimaksudkan sebagai pembelajaran yang mengutamakan pengalaman nyata, pengetahuan bermakna dalam kehidupan, dekat dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran penerapan model pembelajaran ini sangatlah penting guna mecapai sebuah tujuan pemebelajaran yang diharapkan. Selain itu, dalam prosesnya pemilihan materi belajar untuk disampaikan menggunakan model kontekstual tersebut sangatlah penting. Karena tidak semua materi belajar baik menggunakan model ini dalam penyampaiannya kepada peserta didik. Melihat dari definisi pembelajaran kontekstual diatas, maka pemilihan materi yang baik untuk disampaikan kepada peserta didik dengan menggunakan model kontekstual yaitu materi yang bisa dipikirkan peserta didik dengan kehidupan nyata, artinya materi tersebut mudah diaplikasikan kekehidupan nyata sehingga siswa tidak sulit untuk menggambarkannya karena itu semua merupakan hasil dari pengalamannya. Misalkan materi persegi panjang (bangun datar sederhana). Materi ini merupakan materi yang tidak asing didalam kehidupan sehari-hari. Memiliki banyak pemisalan dalam memilih alat peraga dalam materi ini, misalkan sebuah papan tulis yang ada disekolah, buku, penggaris dan alat-alat lain yang berbentuk persegi atau persegi panjang. Selain guru mudah dalam penyampaian meteri ini, terutama  dalam peberian sebuah pemisalan atau alat peraga untuk penyampaiannya kepada sisiwa, tetapi juga materi tersebut sangat mudah bagi siswa untuk mengerti.
Dari penjelasan diatas, bahwa pemilihan materi yang baik untuk menggunakan model pembelajaran kontekstual yang akan disampaikan sangatlah penting. Karena dalam aplikasinnya, keduanya saling ada keterikatan satu sama lain, sehingga keduanya harus saling memenuhi dan berhubungan agar tujuan dari suatu pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik sesuai harapan yaitu agar siswa lebih cepat dalam menerima materi belajar sehingga dalam proses pemahan materi tersebut akan mudah dilakukan oleh siswa. Secara keseluruhan, pemilihan materi yang sesuai dengan model pembelajaran kontekstual sangat mendukung demi kelancaran proses belajar mengajar.

G.    Langkah-Langkah Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Tahapan-Tahapan Pembelajaran CTL
          Cara mengaplikasikan CTL dalam proses pembelajaran, di bawah ini disajikan contoh penerapannya. Dalam contoh tersebut dipaparkan bagaimana guru menerapkan pembelajaran dengan pola konvensional dan dengan pola CTL. Hal ini dimaksudkan agar dapat memahami perbedaan penerapan kedua pola pembelajaran tersebut.
          Misalkan pada suatu hari guru akan membelajarkan anak tentang bangun datar sederhana. Kompetensi yang harus dicapai adalah kemampuan anak untuk memahami jenis-jenis bangun datar sederhana. Untuk mencapai kompetensi tersebut dirumuskan beberapa indikator hasil belajar:
1.         Siswa dapat menjelaskan pengertian bangun datar sederhana.
2.         Siswa dapar menjelaskan jenis-jenis bangun datar sederhana.
3.         Siswa dapat menjelaskan perbedaan karakteristik antara bangun persegi panjang dengan bangun jajar genjang.
4.         Siswa dapat menyimpulkan tentang jenis bangun datar sederhana.
5.         Siswa bisa membuat gambar yang ada kaitannya dengan bangun datar sederhana.
          Perhatikan perbedaan penerapan model pembelajaran konvensional dan pembelajaran CTL berikut ini:
1.         Pola Pembelajaran Konvensional
Untuk mencapai tujuan kompetensi di atas, mungkin guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut:
a.         Siswa disuruh untuk membaca buku tentang bangun datar sederhana.
b.        Guru menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan pokok-pokok materi pelajaran seperti yang terkandung dalam indikator hasil belajar.
c.         Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya manakala ada hal-hal yang dianggap kurang jelas (diskusi).
d.        Guru mengulas pokok-pokok materi pelajaran yang telah disampaikan dilanjutkan dengan menyimpulkan.
e.         Guru melakukan post-tes evaluasi sebagai upaya untuk mengecek terhadap pemahaman siswa tentang materi pelajaran yang telah disampaikan.
f.         Guru menugaskan kepada siswa untuk membuat gambar sederhana sesuai dengan tema “bangun datar sederhana”.
       Dari model pembelajaran seperti yang telah dijelaskan di atas, maka tampak bahwa proses pembelajaran sepenuhnya ada pada kendali guru. Siswa diberi kesempatan untuk mengeksplorasi. Pengalaman belajar siswa terbatas, hanya sekedar mendengarkan. Mungkin terdapat pengembangan proses berfikir, tetapi proses tersebut sangat terbatas dan terjadi pada proses berfikir taraf rendah. Melalui pola pembelajaran semacam itu, maka jelas faktor-faktor psikologis anak tidak berkembang secara utuh, misalnya mental dan motivasi belajar siswa.
2.         Pola pembelajaran CTL
       Untuk mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan CTL guru melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti di bawah ini.
a.        Pendahuluan
                                                     1).     Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi palajaran yang akan dipelajari.
                                                     2).     Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:
                                                     3).     Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa;
                                                     4).     Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi; misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke perpustakaan, dan kelompok 3 dan 4 melakukan observasi ke laboratorium komputer;
                                                     5).     Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai bangun datar sederhana hal yang ditemukan di ruangan tersebut tersebut.
                                                     6).     Guru melakukan Tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.
b.        Inti
Di lapangan
                                                     1).     Siswa melakukan observasi ke ruangan sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
                                                     2).     Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di ruangan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.
Di dalam kelas
                                                     1).     Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
                                                     2).     Siswa melaporkan hasil diskusi.
                                                     3).     Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.


c.         Penutup
                                                     1).     Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah bangun datar sederhana sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.
                                                     2).     Guru menugaskan siswa untuk membuat gambar tentang pengamatan mereka dengan tema “bangun datar sederhana”.
          Apa yang dapat kita tangkap dari pembelajaran dengan menggunakan CTL? Pada CTL untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep, anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan. Menurut Wina Sanjata (2006:256) ada beberapa catatan dalam penerapan CTL sebagai suatu strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
                                                     1).     CTL adalah strategi pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
                                                     2).     CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
                                                     3).     Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan.
                                                     4).     Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain.
                                                     5).     CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
                                                     6).     Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
                                                     7).     Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic.
                                                     8).     kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
                                                     9).     Ciptakan masyarakat belajar.
                                                 10).     Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
                                                 11).     Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
                                                 12).     Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai.

      H.          Peran Guru dan Siswa dalam CTL
          Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter (1992) dalam bukunya Wina Sanjaya dinamakan sebagai unsur modalitas belajar. Menurutnya ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tipe visual, auditorial, dan kinestetis.
          Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menrut Paulo Freire sebagai system penindasan.
          Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL.
                       1.     Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sedang berada dalam tahap-tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau “penguasa” yang memaksakan kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka bias belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
                       2.     Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh karena itulah belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
                       3.     Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian, peran guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
                       4.     Belajar bagi anak adalah proses menyempurnakan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.









BAB III
PENUTUP

A.  Simpulan
Dari berbagai pembahasan mengenai model pembelajaran kontekstual diatas, kami dapat simpulkan bahwa definisi secara umum mengenai pembelajaran kontekstual itu sendiri adalah sebuah konsep pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Terdapat komponen-komponen yang terkandung dalam pembelajaran kontekstual yaitu kontruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik. Kemudian dalam pelaksanaan proses pembelajaran kontekstual itu sendiri, perlu diperhatikan urut-urutan dalam proses pelaksanaannya antara lain relating, experiencing, applying, cooperating, dan transfering. Selain itu, keterampilan dalam pemilihan materi belajar juga sangat penting untuk dipikirkan, karena hal ini akan menunjang dalam kebermanfaatan proses pembelajaran menggunakan model kontekstual. Setelah dilaksanakaanya pemebelajaran dengan model kontekstual, hal ini terlihat dengan tedapat perbandingan yang menonjol antara pembelajaran dengan model kontekstual dengan model pembelajaran sebelumnya yaitu dengan pembelajaran tradisional, meliputi pemahaman materi yang disandarkan pada hafalan dalam pembelajaran tradisional. Berbeda dengan pembelajaran kontekstual, siswa tidak berpusing-pusing untuk menghafal materi-materi, tetapi hanya dengan memori spasial yaitu pemahan materi dan mengingatnya dengan menghubungkannya kehidupan nyata sehingga tidak mudah lupa karena itu merupakan pengalaman sehari-hari, dan perbandingan-perbandingan yang menonjol lainnya.

B.  Saran
1.    Sudah terlihat bahwa model pembelajaran kontekstual sangat menbantu guru dalam penyampaian meteri, oleh karena sebagai calon guru hendakknya kita mampu menerapkan model pembelajaran ini dengan baik agar mampu meningkatakan kualitas belajar peserta didik.
2.    Khususnya bagi seorang calon guru matematika, sangat penting dalam menerapkan dan memahami model pembelajaran kontekstual, karena akan membantu dalam penyampaian meteri dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga peserta didik dapat mengetahui kebermanfaatan dari ilmu matematika itu sendiri di dalam kehidupan sehari-hari.



















DAFTAR PUSTAKA

Suprijono, Agus.2009.Cooperative Learning.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Siswono, Tatag Y.E.2002. Penerapan Pembelajaran Matematika dengan Strategi React untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi dan Representasi Matematik Siswa Sekolah Dasar.

I Gusti Putu Sudiarta.2006.Pengembangan dan Implementasi Pembelajaran Matematika Berorientasi Pemecahan Masalah Kontekstual Open-Ended  untuk  Siswa Sekolah Dasar.

Ni Nyoman Parwati.2006.Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual pada Siswa SMP NEGERI 2 SINGARAJA (Paradigma Baru Pembelajaran Matematika Sekolah Berorientasi KBK).

Darhim. Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal.

Aprudin.2012.Implementasi Stategi Contextual Teaching and Learning.http://007indien.blogspot.com/2012/06/konsep-pembelajaran-contextual-teaching_26.html(online).14 November 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar